Selasa, 09 Agustus 2016

Perang Tjilegon Tahun 1888: Larangan Adzan yang Berujung Perang Melawan Kompeni Belanda

post-feature-image


Kultwit oleh akun twitter @DPP_FPI

1. Bismillah...Malam ini, akan kami ceritakan sebuah kisah Tempo Dulu, Perang Cilegon pada tahun 1888.
 

2. Perang terjadi lantaran adanya larangan adzan dari Mesjid. Cerita ini ditulis oleh BUYA HAMKA dalam buku : Dari Perbendaharaan Lama.

3. Cerita bermula dari ulah para Meneer Kompeni Penjajah dan pejabat pribumi yang jadi centengnya. Mereka mengusik umat Islam.

4. Mereka protes suara adzan dan sholawat tarhim yang sering terdengar dari menara-menara langgar dan Masjid.

5. Puncak daripada protes itu, yaitu mereka larang tarhim (sholawat jelang Subuh) dan mereka robohkan menara-menara Langgar & Masjid

6. Alasan mereka melarang tarhim sholawat serta adzan yaitu karena menganggu tidur enak Asisten Residen Meneer Gubels.

7. Pada tempo itu, Pemerintah Kolonial memang mengangkat para pejabat (Wedana, Patih, Residen, dll) dari kalangan Abangan.

8. Akibat dari perlakuan Kompeni yang semena-mena itu, para ulama naik pitam. Mereka tidak terima adzan dan tarhim dilarang.

9. Pada Senin malam Selasa tanggal 10 Juli 1888. Akhirnya pemberontakan pecah!!! Umat Islam melawan kecongkakan Kompeni dengan senjata

10. Malam itu menjelang subuh, dengan dipimpin oleh Haji Wasith dan Haji Ismail, pasukan umat Islam mengepung Cilegon.

11. Haji Wasith dan pasukannya akan menggempur dari Utara. Sementara Haji Ismail dan pasukannya menggempur dari Selatan.

12. Target dari serangan ini adalah memburu para Pejabat & Pegawai Pemerintah Kolonial yang berani beri perintah robohkan menara Langgar.

13. Dengan sorak takbir & tahlil yang dahsyat & seram, pasukan umat Islam masuk kota Cilegon, mencari musuh2 yang telah mengusik Umat Islam.

14. Akhirnya, dalam sekejap Cilegon berhasil dikuasai. Asisten Residen Gubels yang tdk mau digangou tidurnya, mati dalam pertempuran.

15. Itulah sepenggal cerita ulama dan umat Islam tempo dulu yang marah dan tidak terima jika agama diganggu.

16. Demikian daripada kultwit jang singkat ini. Silahkan Sodara sebarkan jika dirasa ada manfaat.

Allahu Akbar ... !!! Merdeka ... !!!


Sumber :  PosMetro

Sabtu, 02 Januari 2016

Ini Lembar Alquran Berusia 1.370 tahun Yang Ditemukan di Inggris

1628372Manuskrip-Al-Quran-tertua-di-dunia1780x390

Kondisi manuskrip atau lembaran bertuliskan ayat suci Alquran berusia 1.370 tahun yang ditemukan di perpustakaan University of Birmingham, Inggris, Rabu (22/7). Menurut hasil analisa karbon, teks Alquran yang ditulis di atas kulit domba atau kambing ini berasal dari periode 568-645 Masehi, masa ketika Nabi Muhammad masih hidup. Tingkat akurasi analisa karbon itu mencapai 95,4 persen.



 
Setelah diuji di Universitas Oxford, lembaran ini diyakini sebagai dokumen teks Alquran tertua yang pernah ada.




Sumber : LingkaranNews

Kisah Soekarno Melamar Rahmi Tengah Malam Untuk Mohammad Hatta


Di Palestina ada Yasser Arafat, di Indonesia ada Mohamad Hatta. Keduanya sama-sama ber-”Nazar” atau berikrar tidak akan menikah sebelum negaranya merdeka. Karenanya, Bung Karno, dalam suatu kesempatan yang rileks pasca kemerdekaan, menanyakan tentang calon pasangan hidup. Setidaknya karena dua alasan. Pertama, Indonesia sudah merdeka. Kedua, usia Hatta tidak muda lagi, 43 tahun.
Hatta tidak menampik topik melepas masa lajang. Terlebih, Bung Karno pun menyatakan siap menjadi mak comblang, bahkan melamarkan gadis yang ditaksirnya. Ketika Bung Karno bertanya kepada Hatta ihwal gadis mana yang memikat hatinya, Hatta menjawab, “Seorang gadis yang kita jumpai waktu kita berkunjung ke Institut Pasteur Bandung. Dia begini, begitu…. tapi saya belum tahu namanya.”
Usut punya usut, selidik punya selidik, gadis Parahyangan yang ditaksir Hatta adalah putri keluarga Rahim (Haji Abdul Rahim). Maka, ketika kira-kira sebulan setelah proklamasi Bung Karno berunjung ke Bandung, ia sempatkan mampir ke rumah keluarga Rahim di Burgermeester Koops Weg, atau yang sekarang dikenal sebagai Jl. Pajajaran No. 11. Bung Karno bertamu hampir tengah malam, jam 23.00.
Meski sempat diingatkan ihwal jam yang menunjuk tengah malam, tapi Bung Karno tetap keukeuh bertamu malam itu juga. Ia berdalih, tidak menjadi soal, karena ia kenal baik dengan keluarga Rahim. Persahabatan lama yang telah terjalin sejak Bung Karno kuliah di THS (sekarang ITB) Bandung. Apa lacur, setiba di rumah keluarga Rahim, ia disambut dampratan dari Ny. Rahim. Sebuah dampratan antarteman, mengingat Bung Karno datang bertamu tidak kenal waktu.
Untuk meredakan dampratan tadi, dipeluklah Ny. Rahim dan diutarakanlah niatnya, “Saya datang untuk melamar.” Tuan dan Ny. Rahim bertanya serempak, “Melamar siapa? Untuk siapa?” Bung Karno langsung menjawab, “Melamar Rahmi untuk Hatta.” Dalam kisah lain diceritakan, adik Rahmi, yang bernama Titi, sempat mempengaruhi Rahmi supaya menolak lamaran Bung Karno, dengan alasan, Hatta jauh lebih tua dari Rahmi.

Berkat “rayuan” Bung Karno pula akhirnya Rahmi menerima pinangan tadi. Bung Karno meminta Rahmi melihat Fatmawati yang juga berbeda usia cukup jauh dengan Bung Karno, tetapi toh mereka bahagia. Alkisah, Hatta dan Rahmi resmi menikah di Megamendung pada tanggal 18 November 1945, hanya disaksikan keluarga besar Rahim, keluarga besar Bung Karno dan Fatmawati. Dari pernikahan itu, lahirlah putri pertama mereka, Meutia Farida yang lahir di Yogyakarta 21 Maret 1947. Nama Meutia datang dari neneknya yang asli Aceh. Sedangkan Farida diambil dari nama permaisuri Raja Farouk dari Mesir yang cantik jelita. Setelah itu, disusul kelahiran putri keduanya, Gemala, dan putri ketiga Halida Nuriah.
Sumber :  LingkaranNews