Kamis, 31 Desember 2015

Meluruskan Sejarah Asal Kain Bendera Pusaka

Indonesian_flag_raised_17_August_1945


Di internet beredar informasi mengenai kain bendera pusaka merah putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 berasal dari kain seprai warna putih dan kain tenda sebuah warung soto warna merah. Keterangan ini berasal dari Lukas Kustaryo, seorang tentara, yang menceritakan pengalamannya kepada majalah Intisari, Agustus 1991. Kustaryo mengklaim telah mengkonfirmasikannya kepada Fatmawati. “Benar, kain merah putih yang saya jahit itulah pemberian saudara,” kata Fatmawati, seperti ditirukan Kustaryo.

Benar atau tidak klaim Kustaryo, wartawan Intisari jelas tak bisa mengkonfirmasikannya kepada Fatmawati yang wafat pada 14 Mei 1980. Yang pasti, Fatmawati sendiri menceritakan dari mana dia mendapatkan kain untuk bendera merah putih dalam bukunya, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1, yang terbit tahun 1978.

Menurut Fatmawati, suatu hari, Oktober 1944, tatkala kandungannya berumur sembilan bulan (Guntur lahir pada 3 November 1944), datanglah seorang perwira Jepang membawa kain dua blok. “Yang satu blok berwarna merah sedangkan yang lain berwarna putih. Mungkin dari kantor Jawa Hokokai,” kata Fatmawati.

Dengan kain itulah, Fatmawati menjahitkan sehelai bendera merah putih dengan menggunakan mesin jahit tangan, “sebab tidak boleh lagi mempergunakan mesin jahit kaki.”

Pemberian kain sebagai bahan bendera itu agaknya berkaitan dengan pengumuman Perdana Menteri Koiso pada 7 September 1944 bahwa Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia “kelak di kemudian hari.”

Menurut Sukmawati Sukarnoputri, dikutip oase.kompas.com, 24 Juli 2011, Fatmawati menjahit sambil sesekali terisak dalam tangis karena dia tidak percaya Indonesia akhirnya merdeka dan mempunyai bendera serta kedaulatan sendiri.

Siapa perwira Jepang yang mengantarkan kain merah putih kepada Fatmawati?

Perwira tersebut adalah seorang pemuda bernama Chairul Basri. Dia mendapatkannya dari Hitoshi Shimizu, kepala Sendenbu (Departemen Propaganda).

Pada 1978, Hitoshi Shimizu diundang Presiden Soeharto untuk menerima penghargaan dari pemerintah Indonesia karena dianggap berjasa meningkatkan hubungan Indonesia-Jepang. Usai menerima penghargaan, Shimizu bertemu dengan kawan-kawannya semasa pendudukan Jepang.

“Pada kesempatan itulah ibu Fatmawati bercerita kepada Shimizu bahwa bendera pusaka kainnya dari Shimizu,” kata Chairul Basri dalam memoarnya, Apa yang Saya Ingat.

Pada kesempatan lain, waktu berkunjung lagi ke Indonesia, Shimizu menceritakan kepada Chairul Basri bahwa dia pernah memberikan kain merah putih kepadanya untuk diserahkan kepada Fatmawati. Kain itu diperoleh dari sebuah gudang Jepang di daerah Pintu Air, Jakarta Pusat, di depan bekas bioskop Capitol. “Saya diminta oleh Shimizu untuk mengambil kain itu dan mengantarkannya kepada ibu Fatma,” kenang Chairul.

Tiba saatnya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Ketika Fatmawati akan melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya terdengarlah teriakan bahwa bendera belum ada. “Kemudian aku berbalik mengambil bendera yang aku buat tatkala Guntur masih dalam kandungan, satu setengah tahun yang lalu. Bendera itu aku berikan pada salah satu yang hadir di tempat depan kamar tidur. Nampak olehku di antara mereka adalah Mas Diro (Sudiro ex walikota DKI), Suhud, Kolonel Latif Hendraningrat. Segera kami menuju ke tempat upacara, paling depan Bung Karno disusul oleh Bung Hatta, kemudian aku,” kata Fatmawati.

Setelah Sukarno membacakan proklamasi, Latif Hendraningrat dan Suhud kemudian mengerek bendera pusaka merah putih.
 

Sumber : LingkaranNews



Mengapa Bendera Kita Merah Putih ?

1448439780x390

Mengapa bangsa kita memilih warna merah-putih untuk bendera kebangsaan? Sejarahnya cukup panjang. Ada yang mengatakan, warna merah putih berasal dari Gula Kelapa. Apakah memang demikian? Marilah kita simak sejarah panjang ini.

Pada tahun 1292 Kerajaan Singosari yang dipimpin oleh Kertanegara mencapai puncak kejayaan. Pada saat itu datanglah pemberontakan yang dilancarkan oleh raja Kediri bernama Jayakatwang. Namun mendapat perlawanan dari tentara Singosari yang dipimpin oleh Raden Wijaya.

Ternyata catatan sejarah tersebut ditemukan kembali pada tahun 1790 di Gunung Butak, Surabaya, menyebutkan; … Demikianlah keadaan ketika tentara Sri Maharaja (Raden Wijaya) bergerak terus sampai ke Rabut Carat. Tidak lama, datanglah musuh dari arah barat. Saat itu juga Sri Maharaja bertempur dengan pemberontak dan musuh pun lari tunggang langgang. Tapi di sebelah timur panji-panji musuh berkibar, warnanya merah putih ….”

Lain lagi dengan sejarah pada masa Kerajaan Mataram, warna bendera kita dikenal sebagai Gula Kelapa. Hal ini diidentikkan dengan warna Gula=merah dan Kelapa=putih. Salah satu bentuknya masih tersimpan sebagai benda pusaka Kerajaan Surakarta, bendera Kyai Ageng Tarub yang dasarnya putih bertuliskan Arab-Jawa dan atasnya garis merah.

Sejarah selanjutnya di zaman Pangeran Diponegoro. Bendera Sang Saka Merah Putih berkibar dengan gagahnya. Peperangan di tahun 1825-1830 melawan kolonial Belanda tersebut mempunyai catatan sejarah yang berharga. Tatkala Pangeran Diponegoro sedang melakukan perjalanan, ia berkata kepada Mangkubumi, ”Paman lihatlah rumah dan mesjid sedang dibakar, api merah menyala-nyala ke atas langit. Kini kita tak berumah lagi di dunia.”

Kemudian Pangeran Diponegoro melihat ke arah Tegalrejo, selanjutnya ke Selarong, tempat rakyat mengibarkan bendera Merah Putih. Ketika itu beliau mengucapkan kata-katanya yang terkenal kepada isterinya, Batnaningsing, ”Perang telah mulai! Kita akan pindah ke Selarong. Pergilah Adinda ke sana dan berikanlah segala intan permata serta emas perakmu kepada rakyat yang mengikuti kita.”

Dalam peperangan yang berakhir pada tahun 1830 itu Pangeran Diponegoro kalah. Bendera Merah Putih pun tidak berkibar lagi. Sejarah berikutnya tatkala para mahasiswa Indonesia yang ada di Negeri Belanda mendirikan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1920. Panji yang mereka pilih adalah Merah Putih Kepala Kerbau. Sedangkan pada tahun 1927 Ir. Soekarno (Presiden pertama RI) mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Bendera Merah Putih dihiasi Kepala Banteng sebagai lambang organisasinya.

Kemudian pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda bernaung di bawah bendera Merah Putih dengan lambang garuda terbang. Dan garuda terbang menjadi lambang tersendiri, sehingga tinggal warna Merah Putih. Nah, tatkala menjelang negara kita merdeka, panitia kecil yang diketuai oleh Ki Hajar Dewantara ditugaskan untuk meneliti bendera dan lagu kebangsaan. Diputuskanlah kata sepakat arti ukuran serta lagu kebangsaan.

Yaitu Merah berarti berani, Putih berarti suci yang berukuran panjang 3 meter dan lebar 2 meter. Sedangkan lagu kebangsaannya yaitu lagu Indonesia Raya gubahan Wage Rudolf Supratman. Sebagai tindak lanjut penetapan bendera tersebut tertuang dalam UUD 1945 pasal 35, yang berbunyi, ”Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih.” Demikianlah sejarah panjang warna bendera kita Sang Merah Putih.

Sumber :  LingkaranNews


Selasa, 29 Desember 2015

Kisah Suparlan Anggota Kopassus, "Rambo" dari Indonesia

suparlan kopassus

Kisah heroik Prada Satu (Pratu) Suparlan menjadi salah satu kebanggaan bagi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) saat ini. Kehebatannya membunuh puluhan pasukan Fretelin, Timor Timur melegenda di kalangan prajurit.

Namanya terpahat di atas batu granit hitam Monumen Seroja, Kompleks Markas Besar (Mabes) TNI Cilangkap. Namanya juga diabadikan menjadi lapangan udara di Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Lapangan Udara Batujajar.

Adiknya, Suharjono (50), begitu bangga dengan kisah Suparlan itu. Sejak gugur di medan perang pada 1980, keluarga hanya sekali berziarah ke makam Suparlan. Itu pun diwakili ayahnya Sudarmo.

Pahlawan korps baret merah ini dikebumikan di Timor-Timur. “Ayah baru satu kali ziarah, kalau tidak salah pada 1984 atau 1985. Saya lupa. Keluarga ignin makam Suparlan dipindahkan ke kampung halaman di pemakaman Kusumanegara, Yogyakarta,” tutur Suharjono saat HUT ke-63 Kopassus di Mako Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (29/4) lalu.

Permintaan Suharjono itu menjadi kerinduan terpendam selama puluhan tahun. Keluarga besar tak pernah bertemu dengan nisan Suparlan. Keterbatasan keuangan membuat keluarga besar tidak mungkin memboyong Suparlan terbang kembali ke Yogyakarta.

Bahkan, sekadar untuk berziarah selalu terkendala uang. Padahal, anak kedua dari pasangan Sawire dan Sudarmo itu menjadi pujaan dikalangan prajurit Kopassus. “Ingin setahun sekali ziarah ke makam kakak saya. Tapi, dari mana biayanya,” ucapnya.

Adalah nama Landasan Pacu di Pusdikpassus. Terletak di Kecamatan Batujajar, Bandung – Jawa Barat. Landasan Pacu ini memiliki panjang 1.652 meter dengan permukaan aspal dan ketinggian 762 meter di atas permukaan tanah.

Dinamakan demikian untuk mengenang kepahlawanan PRATU SUPARLAN yang gugur dalam tugas, diresmikan oleh Danjen Kopasus pada 1995 Mayjen Prabowo Subianto. Suparlan adalah prajurit Kopassus yang gugur tahun 1980. Prajurit hebat ini mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan regu gabungan Kopassus dan Kostrad dari pembantaian Fretilin. Kisahnya bermula ketika 1 Unit gabungan berkekuatan 9 orang personil (4 Kopasus, 5 Kostrad) dibawah pimpinan Lettu Poniman Dasuki (Brigjen Purn.) melaksanakan Patroli di “Zona Z” pedalaman Timor.
 
 
Zona ini dikenal masih sangat rawan, terindikasi menjadi daerah konsentrasi dari tokoh-tokoh Fretelin seperti Lobato, Lere dan Xanana. Disamping itu, terkonsentrasi 300 -an Fretelin dengan persenjataan campuran, serta kebanyakannya adalah mantan Tropaz Portugal yg berpengalam dalam pertempuran di Mozambique. Pada awalnya Tim Kopassus Kostrad ini ingin menyergap Pos Pengamatan Fretelin, dan setelah melumpuhkan Pos Pengematan Fretelin, tiba tiba dari berbagai arah muncul pasukan Fretelin yang lebih besar, kontak senjata pun tak terhindarkan. 
 

Pertempuran menjadi tidak berimbang karena kalah jumlah. Unit Gabungan terdesak hebat, digunting dari berbagai arah, termasuk dari ketinggian bukit-bukit. Hujan tembakan menghujani personel Unit Gabungan ini.
Personel operator Minimi dari Kostrad yang pertama-tama tumbang, langsung gugur ditempat, kemudian disusul 3 orang lainnya di formasi paling belakang yang juga terkena tembakan.
 

Sisa 5 personil terdesak hebat dan bertahan mati- matian. Kalah jumlah, sisa unit gabungan mundur setapak demi setapak sehingga menghampiri bibir jurang sambil mencari kemungkinan meloloskan diri dari killing ground. Hanya ada satu celah untuk meloloskan diri, akan tetapi dibutuhkan waktu yang cepat untuk melintas sebelum pasukan Fretilin menutup celah bukit tersebut.

Komandan Unit memerintahkan sisa unit menuju ke celah tersebut, dan Pratu Suparlan paling depan, bukannya mendengarkan perintah, Pratu Suparlan mundur kebelakang tanpa mengindahkan perintah Dan Unitnya. “Komandan Bawa yang lainnya, saya akan berusaha menghambat!” Disinilah Pratu Suparlan menunjukkan sifat kepahlawanannya, antara kehormatannya sebagai laki-laki, Prajurit, Korps dan negaranya, Tanpa menghiraukan peringatan Dan Unitnya agar mundur, Pratu Suparlan membuang senjatanya dan mengambil Minimi milik rekannya yang gugur.

Pratu Suparlan berlari kearah datangnya Fretilin dan menyambutnya dengan siraman Minimi… Jatuh bangun terkena tembakan di tubuhnya, Suparlan mengamuk seperti banteng (penuturan saksi mata Fretilin yang tertangkap), mengejar mereka hingga ke semak persembunyian fretelin tidak terhitung berapa peluru yang sudah bersarang di badannya.

PDL Pratu Suparlan berubah warna menjadi merah karena darah yang membanjiri tubuhnya. Pratu Suparlan menyerang hingga sampai kehabisan amunisi. Kondisinya mulai Lemas karena kekurangan darah, dia mencabut pisau komandonya dan bertarung satu lawan satu. Sepertinya Fretilin berniat mempermainkannya dengan tidak membunuhnya secara langsung. Suparlan bertarung mati-matian sendiri hanya berbekalkan pisau komandonya, sempat merobohkan 6 orang Fretilin, hingga tangannya tidak mampu lagi menggenggam pisau.

Dan Unit dengan sisa pasukannya melihat Pratu Suparlan tidak muncul, memutuskan untuk kembali mencari Pratu Suparlan dan membantu. Suparlan sendiri dikelilingi oleh puluhan Fretilin, bagaikan menunggu malaikat maut yang akan menjemput nyawanya. Suparlan seorang yang cerdik, taktik dia melemahkan dirinya sangat tepat, saat dia terduduk, pasukan Fretilin berkerumun mendekatinya siap mengeksekusi. Tepat disaat 1 tembakan mengenai lehernya, Suparlan oleng hampir roboh ke tanah. Dengan sisa-sisa tenaganya, diambil 2 granat dari balik kantong PDL nya, langsung mencabut pin.

Didahului teriakan “Allahuakhbar…!” berlari serta meloncat berjibaku pas ditengah2 rimbunan Freteilin yang mengepungnya …..granat meledak….disertai gugurnya seorang prajurit pemberani dengan membawa bersama sejumlah musuh.

Mengetahui gugurnya Suparlan, sisa 5 personil yang tadi meloloskan diri dan sudah menguasai ketinggian, berbalik menyerang dan menembak kerumunan Fretilin dari ketinggian dengan bertubi-tubi. Dalam kontak senjatan sengit ini, kembali 3 personil Baret Merah tumbang meregang nyawa.

Sekonyong-konyang, bala bantuan tiba (gabungan Kostrad/ Brimob) membantu memukul mundur Fretelin dengan cara menjepit. Riuh rendah tembakan makin menjadi-jadi. Mayat bergelimpangan di mana-mana, termasuk 7 personil Unit Gabungan tadi. Dari jumlah asal 9 orang Unit Gabungan opasus/Kostrad, yang tersisa tinggal 2 orang, yaitu Dan Unit Lettu Poniman Dasuki dan Partu Tamsil.

Setelah Freteilin terpukul mundur, meninggalkan rekan mereka yang sudah menjadi mayat dan juga yang cedera, pembersihan dan konsolidasi langsung dilakukan. Bagaimana dengan nasib Suparlan? Jenazahnya sangat menyedihkan, hancur tidak berbentuk lagi. Dari pihak Fretilin ditemukan sejumlah 43 mayat dan sejumlah yang cedera dan bisa ditawan hidup-hidup. Saat diinterogasi, anggota Fretelin ini hanya menceritakan bagaimana Pratu Suparlan bertempur sendiri sampai gugur.
 
 Sumber :  LingkaranNews

Sabtu, 05 Desember 2015

6 Bukti Alien Pernah Datang Ke Bumi Dari Jaman Prasejarah ???





Alien - Jika berbicara mahluk asing yang berasal dari luar angkasa ini memang tak ada habisnya. Banyak orang yang mengaku pernah melihatnya bahkan sampai di culik. Dan tak sedikit juga yang tak percaya bahwa Alien itu ada, namun sejak jaman kuno dulu sudah ada beberapa bukti atau tanda-tanda keberadaan Alien yang pernah mampir ke bumi. Apa benar begitu? Kita simak saja ke 6 Bukti Keberadaan Alien dibawah ini.


1. DROPAS STONES-CHINA (10.000 Sebelum Masehi) 
Foto : (worldmysteries.tv)

Di sepanjang perbatasan Cina-Tibet, di daerah Stones Dropa menunjukkan hal-hal yang di percaya sebagai kecelakaan pendaratan Alien di muka bumi. Saat menjelajahi beberapa gua di pegunungan Himalaya, seorang professor arkologi dan murid-muridnya menemukan kuburan kecil yang terdapat beberapa kerangka makhluk aneh di dalamnya.Tidak terdapat batu nisan melainkan terdapat lempengan menyerupai uang koin dengan lubang di tengah dan alur spiral keluar dari lubang lemengan tersebut.

Dr Tsum Um menyimpulkan alur yang terdapat dalam hieroglif tersebut menceritakan sebuah kisah tentang sebuah kelompok yang di sebut sebagai Dropas yang jatuh di bumi. Dropas berusaha untuk berteman dengan suku lokal tetapi malah dibunuh oleh manusia primitif dan dijauhi mereka karena penampilan mereka.


2. VIMANAS-INDIA (3000 Sebelum Masehi) 
Foto : (cloudfront.net)

Vimna memiliki banyak arti dalam bahasa Sansekerta termasuk mesin yang mempunyai kemampuan untuk terbang. Dalam teks-teks kuno pada abad 3000 SM, Vimnas digambarkan sebagai kendaraan yang mampu terbang tidak hanya di atmosfer kita namun juga keluar atmosfer bumi dan penjelajah ruang angkasa.
Foto : (crystalinks.com)

Sering digunakan sebagai kendaraan untuk dewa-dewa Hindu, di perkirakan Vimanas adalah kendaraan luar angkasa yang terlihat pada waktu itu, namun karena penduduk bumi masih memandang segala sesuatu yang sangat luar biasa sebagai "ulah para Dewa" maka Vimana mereka simpulkan sebagai kendaraan para Dewa Hindu.


3. HIEROGLIF FIRAUN THUTMOSE III-MESIR (1.300 Sebelum Masehi) 
Foto : (abcdream99)

Hieroglif kuno menceritakan sebuah peristiwa supranatural yang terjadi di Mesir pada masa pemerintahan Firaun Thutmose III. Dalam ukiran tersebut, menceritakan tentang lingkaran api muncul di langit pada suatu malam selama beberapa hari. Lingkaran api tersebut kemudian naik ke langit, menuju selatan, dan menghilang. Mungkinkah ini merupakan salah satu pertanda alien pernah datang ke bumi?


4. PIRING TERBANG-JEPANG (1.180 Masehi) 
Foto : (pinktentacle.com)

700 tahun sebelum Barat mulai menggunakan istilah "piring terbang," telah dilaporkan bahwa sebagian penduduk Jepang melihat benda yang menyerupai gerabah terbang di atas langit negeri sakura ini. Peristiwa ini terjadi di provinsi Kii, penampakan benda aneh ini terlihat dekat pegunungan, namun tidak lama kemudian menghilang ke cakrawala meninggalkan jejak bercahaya dan asap.

Pemerintah Jepang saat itu melakukan penyelidikan resmi terhadap penampakan benda asing tersebut, kesimpulan dari pemerintah Jepang waktu itu adalah bahwa benda tersebut hanya merupakan angin yang membuat bintang terkesan bergoyang. Para pakar UFO menyimpulkan bahwa pernyataan pemerintah jepang tersebut sebagai sebuah kebohongan, alasannya karena bintang tidak mungkin kelihatan di siang hari.

5. LUKISAN The Madonna with Saint Giovannino (Akhir 1400-an) 
Foto : (lh6.ggpht.com)

Lihatlah secara detail lukisan bunda Maria dengan judul "The Madonna with Saint Giovannino" karya Domenico Ghirlandaio lihatlah pada sudut kanan atas . Dalam lukisan yang di buat pada akhir abad 1400-an ini terlihat di langit terdapat "piring terbang" mengambang di udara dan di bawahnya terlihat seorang pria berdiri bersama seekor anjing (gambar siluet).

Apa gambar tersebut hanya ketidak sengajaan? Lukisan ini menjadi perdebatan banyak ahli sejarah dan seni.


6. MIKROCHIP PADA MAYAT NAPOLEON (Tahun 1.794) 
Foto : (weeklyworldnews)

Setelah memeriksa sisa-sisa kerangka dari salah satu penguasa terbesar di Perancis, Napoleon Bonaparte, para ilmuwan dibuat bingung yaitu ketika mereka menemukan benda setengah inci panjang yang menyerupai microchip. Para ahli termasuk di dalamnya Dr Andre Dubois, percaya bahwa ini adalah bukti bahwa Napoleon diculik oleh alien. "Napoleon pernah hilang selama beberapa hari pada bulan Juli 1794, ketika ia berusia 25," kata Dubois. Dia kemudian mengklaim bahwa "Pemimpin Perancis ini telah ditahan selama kudeta Themidorian namun tidak saya peroleh catatan penangkapan terhadapnya yang dapat saya percaya, keimpulan saya bahwa dia telah di culik oleh Alien" imbuhnya.

Hmmm... Percaya atau tidak itu kembali kepada pribadi masing-masing. Apa orang jaman kuno dulu juga mereka-reka mahluk asing bernama Alien ini? Sama seperti kita sekarang ini? Siapa yang tahu. Misteri tetap menjadi misteri.

Sumber : 7nfinity