Minggu, 16 Maret 2014

Meresahkan, Pemda Bali Melarang Jilbab di Sekolah Negeri



ASATUNEWS - Kebebasan beragama dan menjalankan perintah agama di Indonesia kian terancam. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan pihaknya telah mendapatkan bukti tertulis pelarangan jilbab di puluhan sekolah negeri di Bali.

Terkait hal ini, somasi terhadap Pemerintah Provinsi Bali memungkinkan dilakukan. Ada sekitar 40 sekolah yang memberlakukan larangan jilbab.

"Jelas tertulis tidak boleh memakai jilbab di salah satu aturan sekolah di Bali,’’ kata Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Kebebasan Berpendapat Rita Pranawati seusai Deklarasi Gerakan Semesta Perlindungan Anak di Jakarta, Rabu (12/3).

Berdasarkan bukti-bukti ini, ujar Rita, tim KPAI sedang turun ke lapangan. Tim ini memverifikasi bukti pelarangan tersebut. Nanti ada koordinasi dengan pimpinan sekolah yang melarang jilbab dan Dinas Pendidikan Provinsi Bali.

Rita mengatakan, jika sudah ada hasil verifikasi, KPAI akan mengungkapkannya ke publik. Hasil verifikasi, akan menjadi landasan kemungkinan somasi terhadap Pemerintah Provinsi Bali. "Kita lihat prosesnya. Yang jelas larangan itu melanggar hak asasi manusia."

Kalau memang dapat diselesaikan secara kekeluargaan, jelas Rita, maka cara itu yang ditempuh. Ia beralasan, masa depan siswi yang memakai jilbab di sekolahnya masih panjang. Jadi ini bukan sekadar persoalan hak berjilbab.

Ia menuturkan, otonomi daerah menjadi alasan bagi sekolah untuk menetapkan aturan yang melarang siswi mengenakan jilbab. Namun, peraturan sekolah itu mestinya tak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi, yaitu UUD 1945.

Konstitusi menyebutkan, setiap warga negara berhak untuk menjalankan keyakinan agamanya. Mengenakan jilbab merupakan salah satu bentuk keyakinan seorang Muslimah. Seharusnya, kata Rita, sekolah negeri menjadi rumah bersama bagi siswanya.

Ketua KPAI Asrorun Niam Sholeh mengatakan KPAI ada dua kemungkinan terkait larangan jilbab ini. Bisa saja yang bersalah adalah sekolah sebagai pembuat aturan. Namun, bisa juga Pemerintah Provinsi Bali jika kebijakan itu bersifat sistemik.

‘’Problemnya ada di sekolah. Lalu, apakah itu sistemik atau kebijakan lokal di sekolah?’’tanyanya. Kalau hanya kebijakan lokal sekolah, kepala sekolahnya yang bermasalah. Namun, kalau diberi payung hukum dan dibenarkan Pemerintah Provinsi Bali maka mereka yang bersalah.

Niam mengungkapkan, KPAI sudah menerima pengaduan langsung dan akan melakukan advokasi. Selanjutnya komisi ini berkoordinasi pula dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan sekolah-sekolah yang melarang jilbab.

Pelarangan jilbab di sekolah - sekolah negeri di Bali, juga mendapat kecaman keras dari Raden Nuh aktifis pemerhati kebijakan publik.

"Kebijakan pelarangan jilbab di sekolah - sekolah negeri di Bali adalah pelanggaran terhadap Pancasila, konstitusi, hukum, dan HAM. Pelarangan itu tidak hanya harus dihentikan, tetapi juga pelaku pembuat kebijakan itu harus diseret ke pengadilan karena sudah meresahkan kehidupan umat beragama," ujar Raden Nuh, di Bukit Tinggi, Rabu (12/3).

Mantan aktifis mahasiswa awal tahun 90 an ini menambahkan, kebijakan - kebijakan pemerintah daerah yang nyata - nyata melangar ideologi dan konstitusi negara seharusnya tidak boleh ditolerir sedikit pun. "Perbuatan (pelarangan jilbab) oknum pemerintah daerah ini sangat membahayakan keutuhan negara kesatuan republik Indonesia," tegasnya.

Ketua Dewan Pembina Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi, menyatakan baru saja mendapatkan laporan tentang pelarangan jilbab oleh beberapa sekolah di Bali. Ia segera menghubungi Lembaga Perlindungan Andak di Bali untuk mengkritisi kebijakan itu.

Seto menegaskan, jangan sampai ada pelanggaran hak anak dalam hal apapun juga. ‘’Termasuk melarang mereka menjalankan ibadah, memakai busana sesuai adat, tradisi, atau moral yang ada di agama masing-masing.’’

Bahkan menurut Seto, ada potensi melayangkan somasi atau tuntutan pidana terkait larangan jilbab di sejumlah sekolah di Bali. ’’Kalau sampai hal itu memang perlu dilakukan, tentu kita akan melakukannya,’’ katanya menegaskan.

Sumber : ASatuNews

Jumat, 14 Maret 2014

Soekarno : Soal cerutu Kuba, Che Guevara dan Amerika


Soekarno punya banyak sahabat di luar negeri. Salah satu yang paling dekat mungkin dengan para pemimpin revolusioner Kuba, Fidel Castro dan Che Guevara.

Che Guevara lebih dulu berkunjung ke Indonesia tahun 1959. El Comandante ini berdiskusi panjang lebar soal revolusi di Indonesia. Pada waktu itu, Che juga merupakan wakil resmi pemerintah Kuba untuk membicarakan hubungan dagang antar kedua negara. Soekarno cocok dengan pribadi Che. Keduanya penuh energi dan bergaya informal.

Che sempat berwisata ke Candi Borobudur. Dia yang terkesan dengan Soekarno kemudian mengundang Soekarno untuk ganti berkunjung ke Kuba.

Maka tahun 1960, Soekarno yang melawat ke Kuba. Pemimpin Kuba Fidel Castro langsung menyambutnya di Bandara Havana. Soekarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan ‘Viva President Soekarno’.

Soekarno banyak berdiskusi dengan Castro soal apa yang telah dilakukannya di Indonesia. Di tengah kepulan cerutu kuba yang legendaris, Soekarno memaparkan konsepnya soal Marhaenisme. Soekarno menjelaskan kemandirian di bidang ekonomi. Bagaimana rakyat bisa menjadi tuan di negerinya sendiri tanpa didikte imperialisme.

Fidel Castro yang juga anti-Amerika klop dengan Soekarno. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah mau didikte Amerika Serikat.

Foto-foto Soekarno, Che dan Castro menunjukkan hubungan yang sangat dekat. Soekarno menghadiahi Castro keris, senjata asli Indonesia. Mereka tertawa seperti dua sahabat saat bertukar penutup kepala. Soekarno menukar kopiahnya dengan topi a la komandan militer yang menjadi ciri khas Castro. Che pun tampak senang mengenakan kopiah Soekarno.

Saat itu revolusi baru saja terjadi di Kuba. Castro dan Che baru menumbangkan rezim Batista dan mengambil alih kepemimpinan Kuba tahun 1959. Karena itu euforia revolusi terjadi di semua pelosok Kuba.

Yang unik, rombongan kepresidenan sempat berhenti hanya karena petugas polisi yang memimpin konvoi ingin menghisap cerutu.

Cerita itu dituturkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Saat itu dalam konvoi Soekarno ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan. Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti.

Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Soekarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu. Setelah menyala, polisi itu lalu memberi hormat pada Soekarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja.

“Bung Karno tertawa berderai melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi,” ujar Bambang.

Lawatan ke Kuba sangat mengesankan untuk Soekarno. Sangat berbeda dengan lawatannya ke Washington beberapa waktu sebelumnya. Kala itu Soekarno tersinggung dengan Presiden Eisenhower yang sombong. Eisenhower menganggap remeh Soekarno yang dianggapnya datang dari negara dunia ketiga.

Dibiarkannya Soekarno menunggu di Gedung Putih hampir setengah jam lamanya. Amarah Soekarno pun meledak.

“Apakah kalian memang bermaksud menghina saya. Sekarang juga saya pergi,” ujar Soekarno dengan marah.

Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno.

Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Dia sadar Soekarno tak bisa diremehkan.
 
Sumber : SejarahRI.com

Kisah tawanan Jerman buat Pulau Nias


Kepulauan Nias, Sumatera Utara ternyata mempunyai hubungan baik dengan Jerman. Pulau ini bahkan pernah dimerdekakan oleh 66 orang tawanan Jerman yang lolos dari hukuman Belanda.

Herwig Zahorka menuliskan sejarah merdekanya Nias. Cerita tersebut dimulai saat Pemerintah kolonial Belanda memutuskan untuk membawa 477 tawanan Jerman ke tangan kolonial Inggris India. Belanda menggunakan kapal yang bernama KPM ‘VAN IMHOFF’ dengan Kapten kapal bernama Bongvani.

Ratusan orang Jerman tersebut pada akhirnya ditawan dengan kawat berduri. Belanda pun mengawasi mereka dengan menurunkan 62 tentara bersenjata lengkap.

Penyiksaan mereka hanya berlangsung satu hari. Keesokan harinya, kapal tersebut mendapat serangan dari pesawat tempur Jepang. Kapal VAN IMHOFF diberondong tiga bom. Dua bom mendarat di laut, tetapi bom ke tiga mengenai kapal tersebut.

Para tentara Belanda pun kocar-kacir menerima serangan dari Jepang. Mereka menyelamatkan diri dengan menggunakan lima perahu kargo yang ditarik dengan perahu motor penarik. Dengan kapal kargo tersebutlah, orang-orang Belanda meninggalkan kapal dan menuju ke Sumatera.

Beberapa tawanan Jerman yang panik pun akhirnya dapat kabur dari penjara. Mereka menyadari bahwa kapal tersebut akan tenggelam akibat terkena bom dari Jepang.

Dalam upaya menyelamatkan diri, mereka menemukan sebuah sekoci yang tidak sempat dibawa Belanda. Akhirnya beberapa orang tawanan Jerman pun naik dan menyelamatkan diri. Sekitar 200an orang terjun ke laut berharap datangnya bantuan dan diduga mereka tidak selamat.

Hari-hari berlalu, mereka terombang-ambing di tengah laut menahan lapar, terjemur matahari dan bahkan ada yang bunuh diri karena sudah pasrah. Tepat pada hari ke 4 tepatnya 23 Januari 1942, mereka sampai di Pulau Nias.

Keesokan paginya, para tawanan yang sudah lemah dibantu beberapa orang Nias dan seorang pastur Belanda, Ildefons van Straalen, memberikan makanan dan minuman kepada tawanan yang selamat.

Namun sayang, keberadaan mereka di Pulau Nias diketahui oleh Belanda. Mereka akhirnya dibawa ke Ibukota Gunung Sitoli dan dipenjara dengan penjaga dari Belanda dan polisi Indonesia dari daerah Sumatra Utara.

Para tawanan Jerman yang sempat merasakan kebebasan sejenak, akhirnya berusaha mendekati polisi Indonesia. Ide itu pun berhasil. Sepertinya, nasib Jerman kala itu sedang beruntung. Jepang sebagai sekutunya sedang mendarat di Sumatera dan Jawa.

Bantuan Jepang dan kerja sama dengan polisi Indonesia membuat mereka bisa menghirup udara kebebasan kembali. Sedangkan nasib para penjaga Belanda, mereka dibawa ke pengasingan dan tersiksa.

Atas kerja sama tersebut, Jerman dengan Nias menyatakan ‘Kemerdekaan Republik Nias’. Rakyat Nias pada saat itu sangat gembira menerima kemerdekaan tersebut. Dan dua orang tawanan Jerman, Herr Fischer dan Albert Vehring menjadi Perdana Menteri dan Mentri Luar Negeri.

Sorak-sorai rakyat Nias wajar, karena mereka merasa mendapatkan kekuatan atas kemerdekaannya. Beberapa minggu setelah merdeka, orang Jerman bersama dengan Nias membuat perjanjian, yang kini dikenal sebagai perjanjian Pulau Nias.

Namun Republik Nias ini tak bertahan lama. Tahun 1942, saat Jepang datang, orang-orang Jerman ini menyerahkan ‘Republik Nias’ ke tangan balatentara Nippon. Sebab Jepang adalah sekutu Jerman dalam Perang Dunia II. Indonesia diakui sebagai jajahan Jepang.

Warga Nias sendiri tak banyak tahu soal kiprah para orang Jerman ini. Mereka umumnya hanya mengetahui orang Jerman banyak menjadi misionaris di pulau yang terkenal dengan lompat batunya.

Sumber : SejarahRI.com

Minggu, 02 Maret 2014

Alasan Soekarno Memilih Tanggal Kemerdekaan 17 Agustus 1945


17 Agustus 1945 merupakan waktu yang sakral bagi bangsa Indonesia. Saat itu, Presiden RI pertama, Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang sekaligus menjadi tonggak baru perjalanan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku itu.

Berbekal secarik kertas yang berisi tulisan tangan naskah proklamasi, Bung Karno dengan didampingi Moch. Hatta, mengumandangkan proklamasi tanda lepasnya bangsa Indonesia dari penjajahan bangsa asing.

Namun, pemilihan tanggal 17 Agustus sebagai waktu dibacakannya proklamasi bukanlah tanpa alasan. Dalam buku Samudera Merah Putih 19 September 1945, Jilid 1 (1984) karya Lasmidjah Hardi, diceritakan alasan Presiden Soekarno memilih tanggal 17 Agustus sebagai waktu proklamasi kemerdekaan salah satunya adalah karena Bung Karno mempercayai mistik. Alasan itu disampaikan Bung Karno saat berdiskusi dengan para pemuda, salah satunya adalah Sukarni, pada 16 Agustus 1945. Saat itu Bung Karno dan Bung Hatta ‘diculik’ oleh kaum pemuda ke sebuah tempat di Rengasdengklok, Karawang.

‘Penculikan’ itu dilakukan untuk menekan kedua proklamator itu agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanpa ada embel-embel Jepang.
“Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno. Mendengar pernyataan Bung Karno, Sukarni lantas bertanya. “Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16?” tanya Sukarni.
Bung Karno lantas menjelaskan alasannya memilih tanggal 17 sebagai waktu memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. “Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Alquran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” kata Soekarno seperti ditulis Lasmidjah Hardi.

Kemudian pada sore harinya, Bung Karno dan Bung Hatta dijemput kembali menuju Jakarta, setelah tercapainya kesepakatan antara golongan muda dan tua. Saat itu, salah seorang perwakilan golongan tua, Ahmad Soebardjo memberikan jaminan kepada pemuda bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya kembali ke Jakarta. Singkat cerita, setelah melewati sejumlah proses dan peristiwa, kumandang proklamasi akhirnya diproklamirkan Bung Karno di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta, pada pukul 10.00 WIB.
 
Sumber : SejarahRI.com

Bung Karno: Pekik Merdeka di Leningrad

Pidato Bung Karno di Tasjkent
Berikut adalah penggalan kisah perjalanan Bung Karno ke Uni Soviet Agustus 1956. Dikisahkan dalam buku “Kunjungan Presiden Republik Indonesia Sukarno ke Soviet Uni” itu, bahwa pada hari-hari berikutnya, di mana pun Presiden Sukarno beserta rombongan tampak, maka mereka bergaul dengan rakyat secara ramah-tamah.

Sebaliknya, begitu masyarakat setempat melihat wakil-wakil Indonesia, spontan menyambut mereka dengan hangat. Demikianlah tamu-tamu disambut di mana-mana : Di Lapangan Merah, di Kremlin, di stasiun-stasiun metro, di pabrik pembikin kapal terbang, dll.

Presiden Sukarno mengunjungi Pameran Pertanian dan Pameran Perindustrian Seluruh Uni Soviet. Di pavilion Uzbektistan dan Georgia, Bung Karno melihat contoh-contoh kapas dan teh. Di pavilion “industri pembikinan mesin” Bung Karno mencermati mobil-mobil, bagian bagian alat turbin yangbesar, mesin penggali batu bara dan bermacam-macam mesin lainnya.

Di bagian peternakan perhatian tamu-tamu tertarik oleh kuda-kuda yang bagus dan cepat serta juga sapi-sapi yang memberikan susu sebanyak 8 sampai 10 ribu liter setahun. Bukan hanya itu. Dengan penuh perhatian wakil-wakil Indonesia juga melihat gudang kesenian Rusia dan Soviet yaitu Galeri Tretyakorskaya, di mana disimpan beribu-ribu buah ciptaan ahli-ahli seni lukis dan seni rupa negara itu.

Dikisahkan pula tentang beragamnya acara dan destinasi yang Bung Karno kunjungi selama berkunjung. Selain Moskow, Bung Karno mengunjungi Leningrad, Kazan, ibu kota republik otonomi Tartar, Swerdlovsk – kota industri terbesar di Ural, Aktyubinsk—ibu kota salah satu provinsi di Kazakhstan, Tasjkent, Samarkand, Asjhabad, Baku, Sukhumi, Sotji, Stalingrad. Perjalanan berkeliling negara yang sangat besar itu, dimulai tanggal 31 Agustus malam waktu utusan-utusan Indonesia berangkat dari Moskow ke Leningrad dengan naik kereta api.

“Saya merasa berbahagia pada saat ini berada di Leningrad sebab saya tahu bahwa Leningrad adalah pusat permulaan daripada revolusi bangsa Rusia. Di Leningradlah menyala dan meledak revolusi Rusia yang telah tekenal di seluruh dunia itu,” demikian berkata Presiden Sukarno di Stasiun Kereta Api Leningrad.

Bung Karno tidak saja berpidato di stasiun. Putra Sang Fajar itu juga berpidato di muka rapat raksasa kaum buruh, insinyur, ahli teknik dan pegawai di pabrik pembikinan mesin Leningrad. Sekali lagi, Presiden Sukarno berbicara tentang kota Leningrad.

Kata Bung Karno, “Di Jakarta revolusi Indonesia meledak, di Leningrad revolusi Rusia meledak. Mengertikah saudara-saudara sekalian apa sebab saya berbahagia berada di kota Leningrad, apa sebab saya merasa cinta kepadamu, apa sebab saya merasa cinta kepada segenap rakyat Leningrad? Mengertikah saudara-saudara bahwa sekarang di antara rakyat Indonesia dan saudara-saudara ada satu hubungan yang tidak dapat dilenyapkan oleh siapa pun jua.”

Dalam kesempatan itu, Presiden Sukarno meminta protokol dan rakyat Soviet tidak memanggil “Paduka Yang Mulia”. Dia minta dipanggil secara sederhana saja, ”Bung Karno” seperti dia disebut dan dipanggil oleh teman-teman sebangsanya.

Selanjutnya Bung Karno juga menceritakan, bahwa orang-orang Indonesia menyambut satu sama lain dengan memekik kata “Merdeka”. Presiden menganjurkan semua para hadirin memekik “Merdeka” lima kali bersama. Bung Karno lantas memekikkan kata Merdeka, spondan beribu-ribu buruh yang hadir di rapat itu mengulangi kata salam Indonesia itu dengan memekik “Mer-de-ka!” Bergemuruhlah pekik merdeka di Leningrad!

Bung Karno dan rombongan berkunjung ke mausoluem W.I. Lenin dan I.W. Stalin. Di sana, Bung Karno memberi penghormatan dan meletakkan karangan bunga dengan tulisan dua bahasa Indonesia dan Rusia.